Peran Lingkungan dan Orang Terdekat dalam Mengatasi Gejala Mental Health

Oleh Ulfa Kaila Dwi Afifah

Indonesia sedang mengalami kondisi pascapandemi, di mana saat masa pandemi Covid-19 terjadi pembatasan sosial antara individu dan lingkungannya. Lingkungan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada kesehatan mental seseorang. Kesehatan mental menjadi isu yang menjadi perhatian saat ini. Menurut data dari Riset Kesehatan Dasar (2013), prevalensi gangguan kesehatan jiwa berat di Indonesia adalah 1,7 per mil, yang berarti 1 sampai 2 orang dari 1000 penduduk Indonesia menderita gangguan kesehatan jiwa berat. Sedangkan di tahun 2018, angka prevalensi gangguan jiwa berat meningkat secara signifikan menjadi 7 per mil, yang berarti 7 dari 1000 penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa berat. Lebih dari 19 juta penduduk di atas usia 15 tahun mengalami gangguan mental emosional dan lebih dari 12 juta penduduk di atas usia 15 tahun mengalami depresi (Riskesdas, 2018).

Sementara itu, PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) melakukan survei kesehatan jiwa terkait Covid-19 di masa pandemi Covid-19. Hasilnya, terdapat tiga masalah psikologis yaitu sebanyak 67persen responden menyatakan depresi, 68 persen cemas, dan 77 persen mengalami trauma psikologis (Mutia, 2021).

Mental health adalah sesuatu yang perlu kita prioritaskan saat ini. Kondisi sosial, ekonomi, geopolitik, dan lingkungan yang tidak menguntungkan (termasuk kemiskinan, kekerasan, ketidaksetaraan, dan kerusakan lingkungan) juga meningkatkan risiko orang mengalami kondisi kesehatan mental. Permasalahan ini menjadi penting karena masalah kesehatan mental meningkat akibat pandemi Covid -19 dan dapat berkembang menjadi masalah kesehatan jangka panjang yang berpotensi menimbulkan beban sosial yang berat.

Saat ini, banyak aplikasi maupun website yang menyediakan konsultasi kesehatan mental secara online. Dengan banyaknya penderita gangguan mental, banyak yang memilih untuk tidak melakukan pengobatan, hal ini disebabkan terhambatnya segi biaya dan tidak menyadari atas apa yang sebenarnya mereka rasakan. Mendirikan komunitas di tengah masyarakat yang peduli dengan kesehatan mental di era yang serba digital seperti saat ini merupakan solusi yang tepat. Era digital dapat dilihat sebagai peluang untuk berpartisipasi dalam meningkatkan kesehatan mental masyarakat.

Pada saat ini terdapat metode yang dapat memberikan pelayanan konsultasi dengan lebih efektif, yaitu dengan adanya komunitas Mental Fighters Indonesia. Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, penulis memiliki sebuah gagasan yang berjudul ‘Mental fighters Indonesia Sebagai Mediator Penderita Gangguan Kesehatan Mental’. Mental fighters Indonesia bertujuan untuk membantu para penderita gangguan kesehatan mental ataupun seseorang yang memiliki gejala kesehatan mental untuk berkonsultasi secara gratis.

Anak-anak, remaja, dan mahasiswa sering menghabiskan hari-harinya untuk belajar di kelas, belajar di kelompok tertentu, atau menyelesaikan pekerjaan rumah. Lingkungan tempat mereka melakukan aktivitas tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental mereka. Hal ini sejalan dengan survei yang dilakukan BLS, yakni lebih dari separuh jam bangun kita dihabiskan untuk pekerjaan atau aktivitas terkait pekerjaan (Bureau of Labor Statistics, 2021), sehingga lingkungan kerja memainkan peran penting dalam kesehatan mental kita. Kesehatan mental lebih dari tidak adanya gangguan mental, hal ini ada dalam rangkaian kesatuan yang kompleks, yang dialami secara berbeda dari satu individu dengan yang lainnya. Pada beberapa kasus, faktor lingkungan memengaruhi kesehatan mental dengan mengubah struktur dan fungsi otak. Penelitian pada anak-anak mendukung hal ini, mencatat bahwa anak-anak yang dibesarkan di lingkungan yang merugikan cenderung menghambat perkembangan otak, meningkatkan risiko masalah ingatan, kesulitan belajar, dan masalah perilaku (Bick & Nelson, 2016).

Kesehatan mental adalah keadaan kesejahteraan mental yang memungkinkan sesorang mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuan mereka, belajar dan bekerja dengan baik, dan berkontribusi pada komunitas mereka (WHO, 2022). Kesehatan jiwa adalah kesehatan pada semua bidang perkembangan manusia, baik fisik maupun psikis. Kesehatan mental juga mencakup upaya untuk mengatasi stres, penyesuaian diri, hubungan dengan orang lain, dan pengambilan keputusan. Kesehatan jiwa setiap orang berbeda dan mengalami dinamika dalam perkembangannya. Karena pada dasarnya manusia menghadapi situasi di mana mereka harus menyelesaikannya dengan berbagai alternatif solusi yang berbeda. Terkadang, sebagian besar orang yang mengalami masalah kesehatan mental pada periode waktu tertentu dalam hidupnya (Fakhriyani, 2019).

Mental fighters Indonesia merupakan komunitas untuk membantu para penderita gangguan kesehatan mental. Konsep dari Mental fighters Indonesia adalah membangun lingkungan yang sehat untuk kesehatan mental yang lebih baik. Dalam Mental fighters Indonesia, para anggota komunitas dapat berkonsultasi mengenai apa yang dialami. Mental fighters Indonesia dibangun melalui social media dan sesekali dilakukan pertemuan secara tatap muka.

Selain itu, mensosialisasikan kesehatan mental adalah prioritas lain dan dapat dicapai dengan kebijakan dan undang-undang yang mempromosikan dan melindungi kesehatan mental, mendukung orang tua untuk memberikan pengasuhan yang baik, menerapkan program berbasis sekolah, dan meningkatkan kualitas komunitas dan lingkungan online. Mensosialisasikan dan melindungi kesehatan mental di tempat kerja juga dapat didukung melalui undang-undang dan regulasi, strategi organisasi, dan pelatihan manajer.

Dari kondisi masyarakat saat ini, tampaknya kesehatan mental setiap individu tidak dapat disamaratakan. Kondisi ini menambah urgensi pembahasan kesehatan mental yang mengarah pada bagaimana individu, keluarga, maupun masyarakat dapat diberdayakan untuk menemukan, menjaga, dan mengoptimalkan kesehatan mental mereka dalam kehidupan sehari-hari (Dewi, 2012). Dalam konteks upaya nasional untuk memperkuat kesehatan mental, sangat penting untuk tidak hanya melindungi dan mensosialisasikan kesejahteraan mental semua orang, tetapi juga memenuhi kebutuhan orang-orang dengan kondisi gangguan kesehatan mental. Dengan adanya mental fighters Indonesia maka dapat dilakukan konsultasi dan perawatan kesehatan mental berbasis masyarakat, yang lebih mudah diakses dan diterima daripada perawatan institusional, membantu mencegah pelanggaran hak asasi manusia dan memberikan hasil pemulihan yang lebih baik bagi orang dengan kondisi gangguan kesehatan mental. Perawatan kesehatan mental berbasis komunitas harus disediakan melalui jaringan layanan yang saling terkait, dapat kerjasama dengan para mahasiswa Psikologi, para penyintas gangguan mental, dan pihak terkait lainnya.

Masalah kesehatan mental terus meningkat secara global sehingga orang semakin beralih ke teman sebaya untuk dukungan mental dan emosional. Dukungan teman sebaya sebagai interaksi antara orang-orang yang ditandai dengan saling berbagi pengalaman dan dukungan untuk meningkatkan kesejahteraan telah lama terbukti penting dalam mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan mental (Fisher, et al., 2014). Di antara manfaat lainnya, menerima dukungan sebaya meningkatkan self-efficacy, memperkuat kepercayaan dalam perawatan kesehatan mental, dan mengurangi depresi (Roos & Werbart, 2013). Dengan adanya komunitas mental fighters Indonesia sebagai salah satu cara yang efektif dan mudah diakses untuk mencapai dukungan teman sebaya, sukarelawan terlatih atau tidak terlatih untuk memberikan dukungan sebaya dalam obrolan tertutup ataupun grup.

Lingkungan dan kesehatan mental dan secara intrinsik terhubung. Lingkungan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada kesehatan mental seseorang. Memiliki orang lain yang dekat dan terpercaya dalam hidup kita merupakan faktor positif yang signifikan untuk kesehatan mental. Mental fighter Indonesia merupakan cara yang tepat dalam menyelesaikan masalah tersebut, dengan membantu para penderita gangguan kesehatan mental. Konsep dari Mental fighters Indonesia adalah membangun lingkungan yang sehat untuk kesehatan mental yang lebih baik bagi para anggotanya.

Dengan ide ini, penulis berharap seluruh elemen masyarakat dapat terlibat aktif di dalamnya. Penulis yakin dengan adanya bantuan dari semua pihak terkait maka masalah gangguan kesehatan mental akan segera terselesaikan.*

*Penulis mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Materi ini merupakan naskah esai yang diikutkan pada Lomba Esai yang diselenggarakan Fakultas MIPA Unisba (Universitas Islam Bandung) dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2023.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *